Tampilkan postingan dengan label Sunni's Perspective. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunni's Perspective. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Maret 2010

Sedotan...

Fyi : Sekadar informasi, postingan ini saya tulis saat mulai buntu mengerjakan tugas yang deadline nya 1 minggu lagi.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Jumat, 19 Maret 2009, saya telah terhujankan. Maksudnya, kehujanan. Hal ini terjadi pasca makan-makan dengan mentor, Kak Cecep di D'Cost. Saat balik, jalan-jalan udah seperti kali alias sungai. banjir. Akhirnya, dengan sedikit menggunakan otak mahasiswa, kami berhasil menggunakan Jigsaw untuk mencari rute paling aman menuju kos masing-masing.

Well... karena kehujanan dan kedinginan, saya akhirnya beli segelas jeruk hangat di depan asrama.  Setelah menyeruput sedikit, saya melakukan hal-hal standar pasca kehujanan. Misal, ganti baju, menghidupkan TV, ngobrol, mengeringka rambut, mandi, dan belajar (yang ini hoax). Tapi, tanpa disangka-sangka, ternyata, gelas jeruk tadi telah terjamah oleh puluhan semut yang ternyata tahu, kalau itu manis.
bintik-bintik kecil di atas yang menempel di gelas merupakan semut-semut yang terindikasi jeruk-aholic.
Untung saja, ada si sedotan, liat gambar berikut :


di permukaan si Jeruk Panas ini ternyata juga sudah terjamah. Tapi, si Sedotan menyelesaikan semua masalah.
Begini method-nya :
1. Berdirikan si Sedotan (entah bagaimana caranya, yang penting berdiri)
2. Pastikan si Ujung Sedotan tidak menempel di dasar gelas (Opsional). Terserah sih, tapi kalau mau menyedot ampas, bolehlah
3. Silahkan ejek para semut, sembari menghabiskan si Jeruk Panas.

Gak penting ya? Mungkin... Tapi, jujur, sebelum saya menemukan fungsi sedotan di atas, sedotan tidak cocok untuk minuman panas, siapa tahu meleleh...

Rule #3 :
Jangan buang sedotan sembarangan

Kamis, 18 Februari 2010

Calciopoli versi Century

Tadi malam, saya nonton Top 9 News di Metro TV. Saya tertarik dengan salah satu berita tentang masalah Bank Century yang sedang menuju garis finish, setelah diobok-obok Pansus yang sempat dijadikan ajang hina menghina antar anggotanya. Di berita tersebut, dijelaskan tentang adanya lobi-lobi politik antar fraksi dalam menentukan sebuah keputusan final atas kasus Century. Yang menarik di sini, adalah cara para elit politk memandang sebuah masalah. Bayangkan saja, hanya dengan ngobrol-ngobrol di kafe, di jalan, atau sebagainya, bisa mengubah pendapat para anggota Pansus. Berikut kutipannya (sumber) :
Syarif kembali mengeluarkan lelucon segar. Menurutnya, lobi-lobi terus dilakukan demi mencapai kesepahaman. "Lagi jalan lobi, lagi makan lobi, telepon juga lobi, rapat juga lobi. Jadi all the time pasti lobi. Namanya mitra koalisi itu tidak boleh lepas," katanya.
Lihat, mungkin ini hanya sekedar lelucon. Tapi, kadang kala orang menutupi kebohongan atau lebih tepatnya menyamarkan fakta dengan lelucon semacam itu. Mungkin, kata beliau, itu sudah hal wajar dan lumrah, dengan embel-embel dinamika politik. Tapi, apakah adil, jika hanya dengan lobi-lobi sampah itu kemudian hati nurani mereka dipaksa mati. Lemah parah...

Selanjutnya, mungkin para wakil rakyat itu berargumen, ini semua demi koalisi. Tapi, semua itu kembali pada kebobrokan moral, lihat saja kutipan berikut ini  (sumber):




Tak hanya ancaman, iming-iming "kenikmatan" juga disuguhkan. "Ada yang ditawari menteri," masih mengutip Bambang.
 Jelas sekali, dimana ada kepentingan, di situ koalisi digalang. Yang tidak menjelang bakal ditendang.

Yang menarik lagi, ada istilah "skor" untuk merepresentasikan sikap fraksi-fraksi atas kasus ini. Misal saja tentang bail-out  (sumber):
Komposisi 7-2 pada pandangan awal membagi dua kubu fraksi di Pansus santer terdengar mulai bergeser. Kekuatan 7-2, terdiri dari 7 fraksi kontra-bail out dan 2 fraksi pro-bail out. Tujuh fraksi terdiri dari PDI Perjuangan, Golkar, PPP, PAN, PKS, Gerindra, dan Hanura. Ketujuh fraksi ini menilai adanya unsur penyalahgunaan wewenang dalam kasus Bank Century. Dua fraksi lainnya, Demokrat dan PKB, berpandangan sebaliknya.
Sampai berita terakhir, skor adalah 9-0, mengenai aliran dana, (sumber).

Tapi, skor tinggal skor....
Peluit panjang belum ditiup...
Masih banyak peluang bagi para lobi-ers untuk mengatur skor akhir pertandingan.

Pertanyaannya, apakah Century bakal menjadi kasus calciopoli seperti di Serie A Italia, ataukah hati nurani yang bicara ?. Berat memang... Siapa coba yang tidak ngiler jika ditawari jadi menteri.

Minggu, 14 Februari 2010

Antara Angpau, Coklat, dan Air...

Hari ini, tanggal 14 Februari, ada beberapa hal yang menjadi wacana di masyarakat Indonesia yang kebetulan juga menjadi awan pengganggu otak saya. Tiga hal diantaranya adalah masalah Angpau, Coklat, dan Air. Yah, memamng, tidak hanya 3 hal itu saja. Dunia ini masih disibukan oleh persiapan nonton bareng Milan vs MU, atau tragedi Lolito di Lazio. Atau mungkin reality show kasus Antasari yang akhirnya divonis. Namun, marilah lupakan sejenak, kita liat 3 fenomena tahunan tersebut.

Angpau : Di benak manusia yang normal, saat mendengar kata angpau, pasti akan langsung di-instansiasi objek yang bernama Imlek dengan alias tahun baru cina. Dengan beberapa inherit atau anak turunan kelasnya Barongsai dan kembang api. Menurut narasumber yang saya wawancarai saat mata kuliah organisme komputer berlangsung, di kala imlek, orang-orang akan melakukan sembahyang di klenteng, vihara, atau gereja tergantung kepercayaan mereka. Hal ini dilakukan di pagi hari. Kalau saya sendiri, pas imlek ini dimulai dengan mengikuti pansus untuk menangani sebuah kasus yang sudah berdampak sistemik. Mungkin akan berjalan 5 minggu ke depan, dengan default rapat hari Minggu pagi jam 8. (tears).

Selanjutnya, pada malam hari, mereka (karena saya tidak bisa datang) akan mengadakan semacam makan-makan atau kembang api. Dan jelas, akan ada barong sai di kawasan tertentu. Dan, kita, maksud saya kalian, jika menonton barongsai, seharusnya atau sewajarnya memberikan semacam amplop merah ke mulut barong sai. Amplop ini yang orang awam sebut dengan nama "Ang pau". Entah apa artinya, cari sendiri saja.

Ngomong-ngomong tentang merah, ternyata menurut desas-desus atau mungkin kenyataannya, warna merah merupakan warna keberuntungan bagi warga Cina. Mungkin hal ini pula yang mengakibatkan MU, Arsenal, Liverpool, AC Milan, AS Roma, Korea Selatan, Rusia menggunakan warna merah sebagai warna dasar kostum tim sepakbola mereka, sehingga beruntung menjuarai Liga domestik, kontinental, atau tampil mengejutkan di berbagai ajang. Tapi, mungkin hal ini bukan kebetulan. Konon, menurut riset, warna merah memberikan semangat juang yang luar biasa bagi sang pemain.

Mungkin, hal ini juga mengilhami warna salah satu partai politik sehingga mampu menjadi salah satu anggota trio kwek-kwek di negara saya. Entahlah...

Coklat : Mungkin, jika kita mendengar kata "Coklat" saat ini, pasti otak kita akan melakukan rangsangan ke bagian memori yang menyimpan kata-kata "Valentine". Apakah ini hal yang wajar ? Jawabannya belum tentu. Mungkin, jika kita analogika dengan Imlek yang akan penuh warna merah, maka saat valentine, aka penuh warna coklat. Baju coklat, celana coklat, topi coklat, dan tas coklat. Jadi, valentine di sini bisa diartikan jambore pramuka internasional. Itu salah satu ketidak wajaran berfikir, tapi benar kan ?

Tentang valentine ini, saya jadi kepikiran mengenai sebuah teori konspirasi sutau kelompok tertentu yang ingin menguasai dunia melalui makanan bernama coklat, walaupun kadang-kadang tidak berwarna coklat. Mungkin, ada sebuah kelompok yang melakukan propaganda, bahwa valentine = coklat, sehingga kelompok tersebut akan menguasai dunia ini dengan keuantungan yang luar biasa dari royalti atau waralaba merk "Coklat". Bayangkan saja, mulai dari coklat jago, b*ng-beng, g*ry pasta, tobl*rone, silverque*n, cadbur*y, dan lain-lain adalah produk yang biasa kita sebut coklat. WOW... Semisal tiap produk si kelompok tadi mengambil royalti 1% saja, sudah berapa triliun coba ?

Mungkin sudah cukup untuk mencapai rekor Century, atau rekor film Avatar. Apalagi, pas tanggal 14 ini, mereka panen besar. WOW lagi... Jadi, hati-hati saja... Ini merupakan sebuah konspirasi luar biasa yang benar-benar mencuci otak hampir 2 x sekian penduduk dunia (karena sepasang).Tapi, sebenarnya, ada beberapa hal yang bisa menyadarkan kita, maksud saya kalian yang tercuci otaknya. Misal, kenapa harus beli coklat ? bukankah coklat bisa bikin gemuk, ketagihan, gigi berlubang, kemiskinan, dan perceraian ? Atau fakta lain, hari valentine hanyalah sekadar penghapus dosa "lupa menyayangi" selama setahun lampau.

Cek saja, apakah pasangan anda masih memberi coklat yang dibeli di Indomar*t selain hari valentine ini ? Masak kita cuman ditunjukan rasa sayang sekali selama setahun ? Masih mending kalau coklat yang dikasih coklat mahal, kalau cuman beng-b*ng ? Salah satu solusinya, ya bikin aja tiap hari ini serasa hari valentine. Tapi, kalau makan coklat tiap hari, bisa membusuk gigi dan lambung kita. Jadi gak usah pake valentine sama coklat deh... Ganti aja sama tahu tempe atau sayur nangka bikinan sendiri, pasti lebih berkesan dan yang jelas, dompet tetap gembung...

Selanjutnya, saya jadi kepikiran untuk menjadikan semacam hari valentine, misal saja hari lahir saya, 13 Juli sebagai hari tertawa. Jadi, di hari itu, gak boleh ada manusia yang nangis, mewek, berlinang air mata, atau hati pundung. Mungkin nama hari-nya Hari Sunni. WOW... Keren lah... Jadi, minimal sudah berguna bagi dunia, nyumbang nama...

Terakhir, Air :

Salah satu dari 4 elemen dasar orang Yunani kuno atau orang-orang illuminati bahkan si Avatar A'ang. Kenapa ada air di postingan ini ? Yah, intinya, Indonesia sedang dilanda bencana tahunan, banjir. Mungkin, baru kali ini saya melihat banjir sampai di atas dengkul atau lutut dengan mata kepala saya sendiri (majas pleonasme). Karena, rumah saya di Bantul secara teori tidak mungkin banjir, dataran rendah yang miring. Lalu, saat di SMA Semesta, mungkin bisa banjir, dengan syarat Semarang menjadi anggota baru laut Jawa. Tapi, kemarin Sabtu, saat ke SMA N 8 Jakarta, saya baru liat, banjir yang nyata. Tapi tidak terlalu ekstrim, karena pernah mencapai lantai 2. (worship). Itu kata guru-gurunya. Lalu, tadi siang, saat pulang dari acara pernikahan alumni, ada abnjir juga, memang tidak telalu parah. Tapi, banjir is banjir gan... Kalau lihat di TV, gak bakal dapet feel banjir yang sebenarnya. Musti turun ke lapangan. Bayangin aja, PC 20 juta anda kena air, atau LCD tanpa tombol ON-OFF anda jadi berkarat. Jadi, JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN. Apalagi di daerah jalan Cisitu Merdeka. Argh... (gambar kalo sempet menyusul, spe*dy lagi tewas...)

Pesan : Kalau gak dapet coklat valentine, bilang aja, takut dicuci otaknya. Kalau masih gak ngaruh, beli sendiri, kirim via pos ke alamat sendiri, dengan nama pengirim Arumi Baschin atau Zakiah Nurmala... Saya juga mengakhiri hari valentine kali ini (masih) tanpa ngemut coklat kok.

Selasa, 26 Januari 2010

Sebuah Solusi Permasalahan Umat Manusia

Apakah pernah anda terbayang, seandainya sedang bermain sepak bola di stadion megah, ditonton ribuan penonton di stadion dan jutaan lainnya via layar kaca, dan anda merasa harus kencing? Misalnya saja kayak kejadian ini :

kalo gak jelas, cek di TKP aja...

Selain kasus itu, masih ada lagi kasus-kasus semacam, pas sedang sidang TA kebelet, pas ujian kebelet, pas lagi jalan di Catwalk kebelet, atau pas keadaan penting lain dan sedang kebelet...

Nah, pas kemarin jalan-jalan sembari window shopping, walaupun cuman ke Indomar*t, ane dapet pencerahan buat masalah di atas. Ini gan :

















Masalah harga :
Kalau mau liat secara lebih jelas :


liat gan, ukuran M, jadi pasti ada ukuran L, XL, XXL, atau XXXL. Tapi mungkin itu diperuntukan yang merasa ber-kuncup besar.

Salah satu konsumennya gan, orang terkenal lho :



















kalo gak percaya cek ke TKP gan

iya gak?

Mungkin, ini bisa jadi salah satu solusi buat masalah-masalah kehidupan kita. Apalagi, produk2 ini udah tersebar secara waralaba alias franchise. Salah satu agennya, ada di deket Rektorat ITB alias Annex, strategis gak?

NB : ada cara pemakaian juga kok, jadi tenang aja buat pemula

Selasa, 19 Januari 2010

Calo = Agen Perjalanan yang ilegal atau Agen perjalanan = Calo yang dilegalkan ?

Baru-baru ini saya melakukan perjalanan dari Bandung ke Jogja, dengan menggunakan kereta api ekonomi. Saat saya masuk stasiun Kiara Condong, saya dihampiri seseorang yang menawari saya tiket duduk. Yah, inilah yang biasa orang sebut Calo. Karena tiket yang tersedia tinggal tiket berdiri, maka saya putuskan untuk beli tiket dari calo tersebut. Hal ini saya ambil berdasarkan perhitungan. Dalam waktu yang cukup lama, saya harus berdiri dengan resiko kelelahan yang cukup besar dan selanjutnya resiko kehilangan barang  bawaan yang cukup besar juga. Jika dibandingkan dengan tiket yang lebih mahal 9 ribu, maka saya rasa itu cukup adil. Sekedar informasi, tiket normal dijual seharga 26 ribu, sementara si calo menjual 35 ribu. Sehingga, kalau dipersentasekan, 9ribu/26ribu = 35%

Kemudian saya teringat suatu hal. Dulu, saya juga pernah membeli tiket travel di sebuah agen perjalanan. Dan selisih yang saya harus bayar adalah 25 ribu. Dengan fasilitas hanya kemudahan membeli tiket. Walaupun tidak terlalu signifikan. Memang, kalau dipersentase, kenaikan harga dari agen tersebut sekitar 25ribu/150ribu = 16%.


Sekarang, mari kita bandingkan kedua cara melakukan pembelian tiket ini :
1. Kedua cara memudahkan kita untuk membeli tiket tanpa harus mengantri.
2. Kedua cara memungut "uang jasa" untuk ongkos sebagai pemasukan mereka.
3. Untuk Calo, kita bisa membeli barang yang sudah tidak ada di pasar legal, sementara untuk agen, kita hanya bisa membeli barang yang masih ada di pasaran.
4. Agen merupakan bentuk usaha yang legal, sementara calo merupakan bentuk usaha yang konon di-cap tidak legal.

Yang dapat saya tangkap di sini, perbedaan sebenarnya dari kedua jenis media di sini adalah, cara mereka mendapatkan tiket atau barang.
Untuk calo, mereka membeli barang sebelum ada penawar, kemudian menawarkan kepada yang membutuhkan.
Untuk Agen, mereka membeli barang setelah ada penawar.

Sekarang, kita perhatikan, apa yang salah di mata calo? Saya rasa tidak ada yang signifikan. Mereka hanya mengambil langkah "gambling". Sehingga wajar jika mereka perlu mengambil untung lebih besar. Kecuali, jika si calo berniat buruk. Maksud dari niat buruk di sini adalah, si Calo menjual dengan harga yang tidak masuk akal, dengan memanfaatkan "kebutuhan mendesak", sementara tiket di pasaran sudah habis. Merekas sanggup memonopoli pasra tiket.

Jadi, tidak ada bedanya antara Calo baik hati dan agen. Namun sayangnya, kita terlalu sering bertemu dengan calo yang tidak baik hati. Sehingga, kita telah menge-cap mereka sebagai kriminil.

Tapi, jika kita mau merenung lagi, calo itu sebenarnya tumbuh dari hal yang menjadi momok Indonesia, kemiskinan, kemudian kekurangan lapanangan pekerjaan. Sehingga, mereka "membuat" lapangan kerja mereka sendiri. Mungkin, sebenarnya mereka hanya ingin jadi agen perjalanan saja. Tapi, dikarenakan tidak adanya sumber penghasilan yang lain, dan merasa menjdai calo adalah hal yang "nyaman", mereka akan ketagihan dan akan terus melakukannya. Berubahlah calo baik hati menjadi calo yang tidak baik hati.

Sekali lagi, jangan percaya apa yang anda dengar, karena tidak ada sesuatu yang pasti benar, selain matematika dan agama tentunya. Termasuk tulisan ini.

Sabtu, 16 Januari 2010

hei anak ITB, yakin mau jadi entrepeneur ?

Prolog :
entrepeneur di sini, lebih mengarah ke bidang bisnis.

Sekarang ini, banyak sekali yang mendewa-dewakan yang namanya entrepeneur. Banyak yang bilang, kalau jadi entrepeneur kita akan lebih nyaman, bisa bantu orang lain dapet kerjaan, tidak disuruh-suruh, dan lain sebagainya. Oleh karena euforia itu, banyak sekali pelatihan-pelatihan mengenai entrepeneur ini, atau bisa juga diselipkan di sebuah diklat, kaderisasi, ceramah, dan lain sebagainya. Namun, apakah pilihan untuk menjadi entrepeneur ini sudah tepat ? Ini saya berikan beberapa pertimbangannya.
1. Seorang entrepeneur, harus memulai usahanya dari bawah. Dari nol. ini akan menjadi sebuah hal yang sulit. Apalagi untuk manusia-manusia bermental instan. Memang, jika kita memulai dari hal kecil, kita akan dapat feel-nya. Itu konon. Dan saya juga setuju. Namun, apakah kita bakal kuat memulai dari awal itu? apalagi di jaman krisis kepercayaan ini. Wedew...
2. Sebagai mahasiswa ITB, yang katanya paling mendewa se-Indonesia, kita dicekoki dengan banyak ilmu, dan itu sudah terfokuskan. Yang elektro ya belajar elektro, yang teknik kimia ya belajar teknik kimia, dan seterusnya. Nah, seandainya, banyak mahasiswa ITB jadi pebisnis, siapa coba yang mau menggantikan posisi-posisi yang seharusnya anak ITB tempati? Apalgi kalau kita bisnis di bidang yang semua orang bisa lakukan, makin dosa aja kita.
3. Kita ini, terlalu bermimpi mengawang-awang. Kita terlalu bermimpi se-akan-akan, semua hal di entrepeneur itu merupakan tantangan. Iya kalau bisa. Kita terlalu dicekoki dengan kisah sukses para pebisnis. Sekarang, coba hitung berapa kemungkinan sukses yang usahanya kita mulai dari nol? Coba liat pebisnis yang gagal lah minimal.

Mungkin itu hanya beberapa saja pertimbangan.

Nah, mengkritisi tanpa memberi solusi adalah sampah. Berikut saya berikan beberapa saran dari saya.
1. Jadilah entrepeneur di bidang yang anda geluti. Buat apa negara mensubsidi kita untuk kuliah di jurusan yang kita pilih, jika kita "berkhianat" dengan ilmu kita?
2. Jangan berbisnis sebagai distributor produk dari luar negeri. Hal ini sangat menyiksa produsen dari dalam negeri dan menghambat pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. Labih parahnya, kita hanya akan jadi konsumen sepanjang masa.
3. Sebaiknya, jadilah produsen yang baik. ada banyak lahan usaha yang bisa kita kuasai di dalam negeri. Misal saja, pintu geser otomatis di mall. Asal tahu saja, pintu itu dihargai 40 juta. Dan, sebenarnya anak Indonesia mampu untuk membuatnya, apalagi anak ITB. Tapi, ironisnya, pintu semacam itu disikat orang Australia. Sekarang, siapa yang salah? Belum lagi masalah Freeport atau blok Cepu.
4. Walaupun tidak menganjurkan berbisnis ria, tapi jangan pula mengabdi pada perusahaan asing. Memang, hanya orang naif saja yang menolak bekerja dengan gaji luar biasa besarnya. Bekerja di perusahaan asing, boleh-boleh saja. Asal, jangan lama-lama. Mending, kerja selama 3-5 tahun, lalu keluar setelah menyerap ilmu. Di sini, ilmu kita akan ada gunanya. Nah, setelah keluar dari perusahaan, lakukan saran nomer satu di atas...

Jadi, jangan lah terlalu berfikir bahwa entrepeneur adalah jalan hidup paling hebat. Janganlah munafik. Hidup ini berat crut...

epilog : Jangan telan mentah-mentah semua informasi dan saran yang masuk ke kita. Berfikirlah sebaliknya. Jangan mudah percaya dan terpengaruh. Berlaku untuk postingan kali ini juga...

Minggu, 06 Desember 2009

How to think about something?

Sebenarnya, postingan kali ini tidak lebih dari sekedar luapan hati, (duh bahasanya), saya. Saya dapat ide buat nulis tentang ini, berawal dari ujian tengah semester, sebuat saja UTS, di jurusan saya. Cerita bermula dari hasil-hasil UTS yang keluar. Tidak terlalu bagus memang, yah minimal di bawah ekspektasi saya. Yang jadi perhatian saya adalah hasil UTS untuk tiga mata kuliah Sebelumnya,saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada yang merasa tak berkenan. Saya sungguh menaruh hormat pada beliau-beliau ini.

Dari ketiga mata kuliah tersebut, saya tergetkan dapat perfect, bukan sekedar A. kenapa? Karena ketiga mata kuliah itu sudah terselami jauh sebelum masuk dunia perkuliahan. Namun, di mana bumi dipijak, disana lah langit dijunjung. Hasil dari ketiga mata kuliah itu, jauh dari sempurna, bahkan ada yang parah, jauh di bawah rata-rata, (spoiler, rata-rata 80an, saya 62). Kenapa hal ini bisa terjadi? Saya juga tak habis fikir. Setelah saya cross-check ke dosen yang menganugerahi nilai tersebut, ada beberapa hal yang menjadi alasan :

  1. Jawaban yang saya berikan tidak sesuai langkah di buku, padahal tidak ada keterangan di soal harus menggunakan metode A atau B. selain itu, alur jawaban saya logis, bahkan hasil akhir juga sama. Ada pendapat ? bukankah banyak jalan menuju Roma? Bahkan saat perkuliahan, dosen tersebut juga pernah mengatakan pepatah serupa.
  2. Yang ini, istilahnya, official
    solution-nya kurang global dan tidak mencakup semua kemungkinan. Hal ini juga aneh. Memang, yang menjawab secara global hanya 3 mahasiswa, dan yang selesai semua kasus, hanya satu, saya. Dan saya pun dapat nilai penuh. Tapi, yang saya agak kecewa, kenapa soal itu tidak dianulir? Kenapa saya minta dianulir? Karena 1 teman saya yang tidak selesai itu tidak dapat nilai penuh, kecil bahkan.
  3. Kesalahan sepele, pengurangan luar biasa. Dalam salah satu jawaban saya, ada hal kecil yang membuat nilai menjadi 5/25. Yaitu salah menginput nilai. Maksud saya, saya menulis P(A) = ½, tetapi di bagian bawah, saya menulis P(A) = 1/5. Memang, ini kesalahan fatal. Tapi, harusnya, pengurangan nilai-nya tidak se-lebay itu.
  4. Soal multi-tafsir. Sebenarnya, seandainya soal diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan sesui konvensi, kalimat "antara x sampai dengan y", berarti "x" dan "y" tidak masuk hitungan. Antara = "between". Tapi, ketika saya melakukan moderasi, beliau beralasan tidak mau mengganti, karena nanti perlu merubah semua nilai, dan menanyakan pada saya, kenapa tidak bertanya tentang maksud soal ke pengawas. Saya punya alasan kuat, karena itu sudah konvensi. Dan kenapa tidak ada keterangan dari pembuat soal. Selain itu, di lembar jawaban saya sudah saya berikan asumsi mengenai pengertian saya. Namun tetap saja tidak ter-iya-kan.
  5. Jawaban saya menurut penilai tidak selesai. Yang sebenarnya terjadi, jawaban saya sudah sampai pada fakta yang telah dibuktikan di perkuliahan. Apakah itu salah?
  6. TAMBAHAN. Seringkah kita menemukan dosen atau guru yang ngotot ketika melakukan kesalahan di saat mengajar dan dibenarkan oleh anak didiknya ?
Yang jadi focus saya adalah, "jawaban yang tidak mengikuti prosedur buku". Hal ini menurut saya, adalah sebuah penghambat kreativitas. Hal ini langsung terbukti ketika ujian ke dua dari salah satu mata kuliah tersebut. Demi memperoleh hasil yang sesuai, dan masih sangat jelas terpaku di otak saya, tentang "nasihat" : "ikutilah buku nak…", di kala ujian, yang ada di kepala saya hanyalah buku, buku, dan buku… tidak ada analisis yang seperti biasa saya lakukan. Padahal, soal-soal yang diberikan sangat jauh dari sukar. Dan akhirnya saya paham. Cara berfikir yang berubah-ubah tidak lah bagus. Seharusnya, kita bebaskan paradigma kita untuk bergerak, berlari, dan terbang bebas. Jikalau hanya mengejar "ABS" aka "asal bapak senang", sangat lah naïf. Tiap-tiap orang punya cara berfikir masing-masing. Dan menurut saya, itulah harta terbesar mereka. Tak ada gunanya meng-copy-paste cara berfikir orang lain. Seharusnya, tiap-tiap orang punya kemampuan dan cara berfikir yang seimbang. Selama tidak melenceng dari norma-norma yang berlaku.

Mungkin, hal ini lah yang menjadi salah satu akar masalah bangsa ini. Terlalu patuh pada yang lebih berkuasa. Entah benar atau tidak. Hanya Dia yang bisa menjawabnya.

Dari kejadian selama UTS tersebut hingga saya menge-post ini, ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Diantaranya tentang prinsip hidup, kepuasan hati, dan saya menemukan target minimal yang harus saya capai selama di bangku perkuliahan ini : mengalahkan dosen mendewa. Harus saya akui, beliau sangat lah hebat di bidangnya. Beliau bahkan terkenal sampai ke universitas lain. Pengabdiannya sangat lah mendewa. Dan seterusnya.

Oke. Saya kira hanya segini saja, semoga saya bisa mengambil hikmahnya, dan siapa tahu ada yang baca dan terinspirasi, walaupun agak tidak mungkin.

Sabtu, 28 November 2009

Post Script Idul Adha 1430 H

hohoho....
baru kemarin kita merayakan hari Raya Idul Adha. Pasti udah pada puas makan sate, tongseng, sop buntut, lidah goreng, apalah itu... Tapi adakah yang gak kebagian daging? wew, kasian nian....

sekedar berbagi kisah nih crut...

jumat pagi, seperti yang sudah disunnahkan, aku sholat ied nih, di AGP, tahu gak ? AGP itu kayak penginapan, orang-orang ada yang maggil (kayak manusia aja) Pusdiklat Geologi... para warga di sini udah nglaksanain sholat ied sejak 14 tahun yll, di AGP...

situasi pas sholat crut..

jamah pria














jamaah wanita...
abis itu, kita warga BG melakukan apa yang disebut foto bareng... sek ini crut..
http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs099.snc3/16644_1210051664021_1610612313_30521056_270360_n.jpg


di BG ada juga tradisi potong kambing, tapi iuran... buat dimakan bareng2 dan dikasih ke karyawan..
ini si kambing yang terpotong...


















habis Jumatan, kita makan bareng-bareng itu kambing, tapi gak sempet ngambil gambar... kasian bgt lah aku... tar aku cari ya crut...

kita dong, aman, terkendali...
ini berkat kerjasama dari berbagai pihak... cek ya crut...


















itu posternya, yang di bawah itu para kompatriot pelaksananya : ada 
Miftahul Khoir,
Gamais ITB, gamais.itb.ac.id/
Kammamuki ITB, 
Botram, 
Bale', 
Asrama Bumi Ganesha, 

ini pelaksanaannya crut..

rapi, dan tidak ada kerusuhan...

ini saat makan sate plus gule, mantap crut...

bis adisimpulkan no kerusuhan...


terus, malemnya, kita (maksud saya, BG 08), melakukan apa yang disebut bakar sate...
ini TKP nya crut...






mantap gak? jawabannya gak, itu sebenernya, sate kurang matang... atau bahasa kerennya RAW... tapi apapun itu, patut disyukuri... sip lah...!!!